Jumat, 07 September 2012

Indonesian Military Still tossed Paniai

Photo illustration Indonesian military in Papua Paniai.

Although the joint meeting on Monday, September 3, 2012 at the Multipurpose Hall Uwatawogi Enarotali, Paniai parties agreed to a peaceful land, but the Indonesian military ignored.
This was stated by the Coordinating Office for Justice and Peace (SKP) Dean Paniai, Diocese of Timika, Brothers Okto Pekei, Pr. To http://papuareality.com, Saturday (08/08/2012). The meeting was attended by the Chief of Police, Liaison Officer, DPRP, Parliament, Religious Leaders, Traditional Leaders, Youth Leaders and Women's Leaders and the entire community. "There are two things that have been agreed," said Pekei.
First, menyepekati so there should be no additional Indonesian military forces (in Paniai) because people still fear and could not move freely. Second, military force is not clear, running loose in order to be withdrawn from Paniai. Military forces, the previous post of Battalion 753 Nabire intense. "But until this moment the troops have not been withdrawn," he explained.
Over the longer, even on Thursday, 6 September 2012, military officers conducting searches and operations in some villages, like in Bibida and Kampung Badauwo and surrounding areas. They seized a bow and arrows and other sharp instruments. "And the people who are gardening scared and immediately left the garden and home. Including the existing highway, forced silence in their homes, "he added.
Meanwhile, according to Damdim that routine operations and sweeping in some areas that are considered vulnerable will remain to be done. "Because this command from the leadership at the center (Jakarta)," said Okto Dandim quote. Yesterday, Friday, September 7 also has the addition of military pasuka to the village level, as Komopa, Agadide District and surrounding areas.
Is this situation will recover? Society, mothers and youth in the District Dogiyai, neighbors from Paniai and Deiyai, also has the addition of the dark forces. "Ukaayagoudo mee Takaida igaada tiyake topae ... (armed forces have spread and disappeared in the community-ed)," said Mella To Papuareality, Saturday morning. (Bobby)

Militer Indonesia Masih Obrak-Abrik Paniai



Sekalipun dalam pertemuan bersama pada hari Senin, tanggal 3 September 2012 di Aula Serba Guna Uwatawogi Enarotali, Kabupaten Paniai telah disepakati berbagai pihak untuk tanah damai, namun militer Indonesia tak menghiraukannya.
Demikian diungkapkan Koordinator Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Dekanat Paniai, Keuskupan Timika, Frater Okto Pekei, Pr. Kepada http://papuareality.com, Sabtu (8/9/2012). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kapolres, Perwira Penghubung, DPRP, DPRD, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Tokoh Perempuan serta seluruh masyarakat. “Ada dua hal yang telah disepakati bersama,” kata Pekei.
Pertama, menyepekati agar tidak boleh ada penambahan Pasukan Militer Indonesia (di Paniai) karena masyarakat masih takut dan tidak bisa bebas beraktivitas. Kedua, pasukan militer yang  tidak jelas, sedangberkeliaran agar segera ditarik dari Paniai. Pasukan militer tersebut, sebelumnya dikirim intens dari Batalyon 753 Nabire. “Tapi sampai detik ini pasukan belum ditarik,” jelasnya.
Lebih para lagi, malahan pada Kamis, 6 September 2012, aparat militer melakukan penyisiran dan operasi di beberapa kampung, seperti di Bibida dan Kampung Badauwo dan sekitarnya. Mereka sita anak panah dan busur serta alat tajam lainnya. “Dan masyarakat yang sedang berkebun takut dan segera meninggalkan kebun dan pulang. Termasuk masyarakat yang ada di jalan raya, terpaksa diam diri dalam rumah masing-masing,” tambahnya.
Sementara itu, menurut Damdim bahwa operasi rutin dan penyisiran di beberapa tempat yang dianggap rawan akan tetap dilakukan. “Karena ini perintah dari pimpinan di pusat (Jakarta),” ucap Okto mengutip kata Dandim. Kemarin, Jumat 7 september juga telah terjadi penambahan pasuka militer ke tingkat kampung, seperti Komopa, Distrik Agadide dan sekitarnya.
Apakah situasi ini akan pulih? Masyarakat, mama-mama dan Pemuda di Kabupaten Dogiyai, tetangga dari Kabupaten Paniai dan Deiyai, juga telah terjadi penambahan pasukkan gelap. “Ukaayagoudo mee takaida igaada tiyake topae…(pasukan bersenjata telah menyebar dan menghilang di tengah masyarakat-red),” ucap mama Mella Kepada Papuareality, Sabtu pagi. (Bobby)

Selasa, 04 September 2012

Free West Papua Movement Vos To Go On Despite Leader's Arrest

Aksi Damai Rakyat Papua
 The Free Papua Movement says it will continue to fight for independence despite the arrest of its leader Daniel Kogoya. Source News: Radioaustralia.net.au  The Free Papua Movement says it will continue to fight for independence despite the arrest of its leader Daniel Kogoya. Source News: Radioaustralia.net.au

Mr Kogoya was arrested along with dozens of other activists in a raid on their headquarters in Jayapura on Sunday night.

Authorities said they had been searching for him for over a year, and claimed he was responsible for a number of recent attacks on civilians.

They said the arrest would deal a major blow to the OPM, which John Otto Ondawame, the organisation's international spokesman, has denied.

"It doesn't mean anything. Even if they kill a thousand West Papuans, members of OPM or civilians, we will continue and grow. The deep aspiration of independence for West Papua will never die," he told Radio Australia.

The raid was carried out by a number of police groups, including members of the Australian-trained elite anti-terrorism unit, Detachment 88.
Jakarta's crackdown
Jason Macleod, from the University of Queensland's centre for peace and conflict studies, said it was the second raid of its kind in as many weeks, and shows Indonesian authorities are cracking down on the movement.

"Without a doubt we are seeing an increase in police and military operations," he said.
"Activists have been arrested in other parts of West Papua. We're also seeing an increase in surveillance activities, so a number of the West Papua national committee activists have gone to ground, many are in hiding and a number of church leaders and civil society leaders are also reporting that West Papua is more unsafe than they've experienced it in many years."
However, Jason Macleod agreed it was unlikely that Daniel Kagoya's arrest would reduce the strength of the OPM.

"The most important thing to remember is that the overwhelming majority of the population want independence, and that would be true for political leaders, church leaders, NGO activists, right through to grassroots," he said.
 

Dialogue Clinton In Indonesia, About Papua

US Secretary H. Clinton and RI Secretary Marty N. (photo AFP)
JAKARTA — US Secretary of State Hillary Clinton called Monday on Indonesia to pursue dialogue and ensure autonomy for restive Papua.

Clinton, who rattled nerves in Indonesia last year by voicing concern over human rights, praised the government even as she urged more efforts to resolve the long-running conflict.

Papua -- a vast, mineral-rich province that shares an island with Papua New Guinea -- has a population ethnically different from most Indonesians. Jakarta annexed the former Dutch colony in 1969 and has since faced a low-level insurgency.

"We believe strongly that dialogue between Papuan representatives and the Indonesian government would help address concerns the Papuans have and assist in resolving conflicts peacefully," Clinton said in Jakarta.

"Of course we deplore violence of any sort in Papua and when it does occur there should be full and transparent investigations under the rule of law," she told a joint news conference with Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa.

Clinton urged implementation of Indonesia's 2001 declaration of autonomy for the troubled region. Local activists charge that the autonomy has never been carried out and that their rights have not improved.

Clinton stressed: "We support the territorial integrity of Indonesia and that includes Papua and West Papua provinces."

"We think that there has been an enormous amount of good work done by the Indonesian government and we're going to continue to work with them and raise issues as that becomes necessary," she said.
Human rights groups have accused Indonesian authorities of arbitrary arrests and attacks on civilians in Papua, which is shut off to foreign media.

 Source:The Associated Press (AFP)

Senin, 03 September 2012

Amerika Serikat Kecam Kelakukan Indonesia

Menlu AS Hillary Clinton mengatakan pemerintah AS mengecam kekerasan di Papua dan berharap ada dialog damai untuk menyelesaikan konflik.
Foto VOA
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan di Jakarta Senin (3/9) bahwa pemerintah Amerika Serikat mengecam kekerasan yang berlangsung di Papua dan berharap pemerintah Indonesia dapat mengedepankan proses dialog damai dalam penyelesaian konflik yang terjadi di sana.

Namun demikian, Amerika Serikat, menurut Clinton, sejauh ini mendukung upaya Indonesia tetap mempertahankan Papua berada dalam wilayah kesatuan republik Indonesia.

“Kami mendukung integritas wilayah Indonesia dan termasuk Papua dan provinsi Papua Barat. Kami sangat percaya dialog antara perwakilan tokoh di Papua dan pemerintah Indonesia dapat berlangsung. Sehingga ke depannya, dapat melakukan pembangunan demi kesejahteraan rakyat di Papua,” ujar Clinton dalam jumpa pers gabungan bersama Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Kantor Kementrian Luar negeri.

Clinton juga menegaskan pentingnya penegakkan hukum dan pelaksanaan undang-undang otonomi khusus di Papua demi kesejahteraan rakyat Papua.

“Kami berpikir bahwa harus bersifat inklusif dengan masyarakat Papua dan pelaksanaan undang-undang otonomi khusus untuk Papua. Dan tentunya kami sangat mengecam serangkaian aksi kekerasan yang terjadi di Papua. Untuk itu kami mendukung penegakkan hukum di Papua, dan untuk ke depannya kami sangat berharap ada kedamaian di tanah Papua,” ujarnya.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Pertahanan Bantarto Bandoro kepada VoA mengatakan, pernyataan Clinton soal Papua sebenarnya lebih pada kekhawatiran terjadinya kekerasan yang terus berlangsung di Papua, karena tentunya akan mengancam kepentingan bisnis Amerika di Papua.

“Clinton juga akan memberikan suatu dukungan kepada Indonesia dalam menjaga integritas politiknya dan tidak mungkn mentolerir kecenderungan-kecenderungan untuk memisahkan diri dari negara kesatuan republik Indonesia. Jadi dukungan politik dari Amerika itu sudah menjadi garansi. Sepertinya Amerika Serikat akan mencoba meminta pemerintah menangani masalah-masalah keamanan di Papua, untuk melindungi bisnis-bisnis mereka di Papua terutama Freeport,” ujarnya.

Kepada media, Clinton juga  memperingatkan kepada Indonesia bahaya terorisme yang marak terjadi di berbagai belahan dunia. Menurutnya, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia menjadi sasaran empuk penyerangan terorisme.

Ia memastikan bahwa kedua negara sepakat untuk mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia, tanpa diskriminasi pada kelompok-kelompok minoritas, agama, sekte dan etnis.

Dalam pertemuan itu, Clinton juga menyampaikan apresiasi pemerintah Amerika Serikat kepada Indonesia terkait inisiatif Indonesia dalam penyelesaian sengketa di kawasan Laut Cina Selatan.

Terkait komitmen untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia, pemerintah Amerika Serikat menyumbangkan puluhan juta dollar amerika untuk pendidikan di Indonesia. Clinton mengatakan bahwa Amerika Serikat melalui lembaga bantuannya, USAID, akan menyumbangkan US$83 juta (Rp 791 miliar) untuk mendukung pendidikan di Indonesia dan $20 juta untuk pelatihan warga Indonesia di Amerika Serikat. Sumber: http://www.voaindonesia.com/

Transcript: Humas Rigths Lawyer Defends West Papua Activism

Australian human rights lawyer Jennifer Robinson speaks to Jim Middleton about West Papua's struggle for independence from Indonesia.
Pers. ABC Report

Jennifer Robinnson
Jim Middleton
Australia has raised hackles in Jakarta over Canberra's response to an ABC 7.30 report accusing an Indonesian counter-terrorism unit of human rights violations in West Papua.

Australian Foreign Minister, Bob Carr, has called on Jakarta to investigate the killing of a West Papuan activist, Mako Tabuni, allegedly by members of a unit called Detachment 88, which has received training and support from the Australian Federal Police.

Jennifer Robinson is an Australian lawyer best known for her role in helping fight efforts by WikiLeak's Julian Assange to avoid extradition from Britain.

But for a decade she has also been deeply involved providing legal assistance and advice to West Papuan activists seeking autonomy, and in some cases independence from Indonesia. 
JIM MIDDLETON: Jennifer Robinson, welcome to the program.

JENNIFER ROBINSON, LAWYER: Thank you very having me Jim.

JIM MIDDLETON: Let's start with this: an influential Indonesian legislator has rebuked Bob Carr for seeking an inquest into the killing of Mako Tabuni. They're branding him a terrorist, at least the Indonesian legislators are, and are accusing Australia of double standards, raising questions about this episode but then being more than happy when Detachment 88 tracked down jihadist and bomb makers in Indonesia. What do you think about that?

JENNIFER ROBINSON: There's absolutely no hypocrisy involved whatsoever. And in fact, this is actually very revealing about Indonesian government's perception of peaceful West Papuan activists who are speaking out on behalf of their people for self-determination.

The Australian Government is right to institute an investigation into this, when you have forces designed to be countering terrorism being turned against domestic dissidents and peaceful activists. In no way can you compare Mako Tabuni to jihadists. He was a peaceful activist, a leader of his people. And all he was doing was criticising the government for their human rights abuse, seeking accountability for that abuse and putting forwards the West Papuan's desire for self-determination. This is not a crime and it's not terrorism.

JIM MIDDLETON: Isn't this the problem for Australia, though, it wants to help Indonesia combat Muslim extremism and then it turns out that the people they're training, Detachment 88, are also using what they've learned from Australia in West Papua?

JENNIFER ROBINSON: It is a difficult problem, and one that can be combated, I think, by imposing certain human rights conditionality in the military aid that we provide. If Indonesia is unable to assure our government that the assistance we provide does not contribute to human rights abuses then we shouldn't be providing it at all.

JIM MIDDLETON: Julian Assange's future may still be up in the air but you've not been without success in another extradition case. Tell us a little about the withdrawal of an Interpol Red Notice against West Papuan independent leader Benny Wenda who, of course, is currently in exile in Britain.

JENNIFER ROBINSON: Benny Wenda is a leader in exile of the West Papuan independence movement. He was 10 years ago a political prisoner and later sought refuge in the UK where he was granted political asylum. Almost 10 years later the Indonesian government sought an international arrest warranted for his arrest for precisely the same politically motivated challenges for which he was granted asylum in the United Kingdom.

Ten years ago I worked on his case when he was a political prisoner in Indonesia, and I provided the witness statement that supported his asylum application in the UK. So it was of great concern to me that a refugee living abroad could still be persecuted by their home state through the use of the Interpol arrest warrant system. And as it turns out it is a very common occurrence. We've been very fortunate in that two years later, with the help of Fair Trials International, we've been able to challenge that politically motivated Interpol arrest notice and it has been taken down.

JIM MIDDLETON: And what was it that you learned at the original trial, I think in Jayapura, which enabled the case to be brought which subsequently led to Interpol withdrawing the Red Notice?

JENNIFER ROBINSON: During the course of that trial, the prosecution was unable to adduce any reliable evidence that placed Benny at the times and the places where they alleged he had been to commit various criminal offences.

JENNIFER ROBINSON: They produced witness statements, witness statements that we couldn't identify those who had made them, they wouldn't bring them to the court for cross-examination. And there was widespread accusations and belief amongst the defence team that evidence had been fabricated.

So basically the purpose of my statement was to show that, in the course of the trial that I sat through and assisted on, there was no credible evidence put forward to form the basis of the Interpol arrest notice indeed the original charges in Indonesia.

JIM MIDDLETON: You describe this as a test case for Interpol. Interpol concluded, in withdrawing the Red Notice, that the case had been predominantly political. What implications then do you think this might have for the whole use of Red Notices by Interpol?

JENNIFER ROBINSON: Fair trials International has used Benny's case with our help to become a test case and to be the first case of a longer campaign in seeking to have the Interpol notices internationally that have been sought for dissidents around the world taken down. So his is hopefully the first of many.

But it raises fundamental questions about Interpol and the international oversight. What you have is essentially an international police body in France which is not subject to the judicial review of the French courts, but also there is no judicial body at the international level through which you can challenge those warrants.

All that you have available to you is internal Interpol committees. And in my view this is insufficient, there ought to be judicial oversight. Happily we were successful in this case and I hope that Benny's case, and we believe that Benny's case will become an example for many other dissidents living around the world who have suffered the persecution that he has as well.

But Fair Trials International is currently working on that and are calling for anyone who is in the same situation to get in touch with them so they can help them.

JIM MIDDLETON: We had better leave it there. Jennifer Robinson thank you very much indeed.

JENNIFER ROBINSON: You're welcome. (*)

Kamis, 30 Agustus 2012

PNWP Umumkan Resolusi Kedudukan Indonesia di Papua

Pimpinan Parlemen West Papua (Ist)
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH – Parlemen Nasional West Papua (PNWP) secara resmi mengumumkan salah satu resolusi yang dihasilkan pada  konferensi yang digelar Kamis, 5 April 2012 lalu di Jayapura. Resolusi itu berbunyi, “Status Kedudukan Pemerintah Republik Indonesia di teritori West Papua bekas koloni Nederlands Nieuw Guinea adalah Penjajah dan Illegal“.
Pernyataan Politik tentang Kedudukan Pemerintah Republik Indonesia di Territorial West Papua itu dikeluarkan Jumat, 17 Agustsu 2012 lalu. Dalam pernyataannya, PNWP menulis, sejumlah Resolusi politik ditetapkan pada 5 April 2012. Salah satunya adalah Kedudukan Pemerintah Republik Indonesia di Papua.
PNWP mengemukakan 19 poin secara runtut sebagai dasar atau alasan dikeluarkannya resolusi ini. Nomor satu mengemukakan, Hak Penentuan Nasib Sendiri adalah HAM  yang patut dihormati oleh setiap bangsa. Pada nomor dua menekankan soal pengakuan dan penghormatan atas hak-hak politik bangsa yang belum berpemerintahan sendiri.
Ketua PNWP didampingi wakil Ketua dari 7 Fraksi (Ist)
“Pemerintah Kerajaan Nederland melalui Gouverneur Nederlands Nieuw Guinea telah mengumumkan Hak Penentuan Nasib Sendiri bangsa Papua dan mengibarkan bendera Negara West Papua “Bintang Fajar” disebelah kiri dan bendera Kerajaan Nederland disebelah kanan bendera Perserikatan Bangsa-bangsa dalam posisi sejajar pada satu tiang yang dilakukan dalam suatu upacara resmi kenegaraan pada tanggal 1 Desember 1961 di seluruh teritori West Papua,”bunyi pernyataan nomor tiga.
Alasan lain (di nomor 4), PNWP mengatakan tidak ada wakil resmi masyarakat pribumi West Papua dalam Badan Panitia Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan tidak menjadi bagian dalam kesepakatan Perjuangan Pembentukan Negara Republik Indonesia.
Pada point lima, Maklumat Persiden Negara Republik Indonesia Ir. Soekarno tentang Tri Komando rakyat (TRIKORA) 19 Desember 1961 dianggap bukti kejahatan dan pelanggaran terhadap hak penentuan nasib sendiri bangsa Papua.
Perjanjian Internasional (New York Agreement) yang ditandatangani oleh Pemerintah Kerajaan Nederland dan Pemerintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 1962 di New York dianggap tidak menghormati Bangsa Papua. “Tidak melibatkan Nieuw Guinea Raad sebagai Lembaga Politik Representative Bangsa Papua di West Papua dalam proses pembuatan perjanjian,”tulis poin enam.
Massa KNPB (Ist)

Pada nomor 10 dan 11 menyoroti soal Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno Nomor : 8/Mei/1963. Surat itu berbunyi, “Melarang/menghalangi atas bangkitnya cabang-cabang Partai Baru di Irian Barat. Di daerah Irian Barat dilarang kegiatan politik dalam bentuk rapat umum, pertemuan umum, demonstrasi-demonstrasi, percetakan, publikasi, pengumuman-pengumuman, penyebaran, perdagangan atau artikel, pameran umum, gambar-gambar atau foto-foto tanpa ijin pertama dari gubernur atau pejabat resmi yang ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia.“
Surat bernomor: 8/Mei/1963 ini dianggap bukti pelanggaran terhadap pasal 22 ayat 1 perjanjian New York tanggal 15 Agustus 1962 yang ditanda tangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Nederland.
Pernyataan yang diketahui Ketua PNWP, Buctar Tabuni dan tujuh wakil ketua PNWP itu, pada nomor 13-18  menguraikan soal Pelaksanaan PEPERA di Papua yang tidak sesuai dengan syarat-syarat yang diatur dan disepakati dalam perjanjian internasional antara pemerintah Kerajaan Nederland dan pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York (New York Agreement 1962).
PEPERA hanya dipilih oleh 1.026 (seribu dua puluh enam) orang wakil. Padahal salah sau syaratnya adalah satu orang satu suara. Dari 1.026 orang itu, orang pribumi Papua sebanyak 40%  atau 400 orang unsur adat dan 60%  orang kebangsaan Indonesia yang masuk ke tanah Papua pada tahun 1963. Maka,dianggap hingga saat ini belum dilaksanakan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa dan masyarakat pribumi Papua berdasarkan Pasal 18 d Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang ditanda tangani oleh Pemerintah Kerajaan Nederland dan Pemerintah Republik Indonesia.
Peserta Sidang Konfernsi (Ist)
Alasan nomor terakhir (19) misalnya, PNWP menilai Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan teritori Papua sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) dan telah membunuh lebih dari seratus ribu orang pribumi Papua. Tindakan itu dianggap dilakukan tanpa alasan kesalahan di bawah legitimasi Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 2504 tahun 1971.
Ketua PNWP, Buctar Tabuni ketika dihubungi media ini beberapa waktu lalu mengatakan,  seluruh rakyat Papua sejak lama telah menilai kedudukan Indonesia di tanah Papua adalah penjajah dan ilegal. Resolusi ditandatangi secara resmi atas nama rakyat Papua oleh ketua PNWP dan tujuh wakil ketua masing-masing, Yehuda Sorontow, Romario Yatipai, Ronsumbre Harij, Habel Nawipa, Pdt. Yakob Imbir, S.Th, Paulus Loho, san Michael Baragi. (GE/003/MS/Ist)

Minggu, 26 Agustus 2012

NAPAS calls for Paniai police chief, military commander to be sacked

Ilustrasi militer di Paniai (Ist)
Aditya Revianur, Jakarta -- Speaking at a press conference in Jakarta, Papua National Solidarity (NAPAS) coordinator Martheen Goo called for the Panai district police chief and district military commander to be removed from their posts.

The call came following sweep operations by security forces in Paniai regency, West Papua, that have left the region in the grip of fear.

"The Paniai district police chief and the district military commander should be sacked because they have failed to maintain a peaceful situation", said Goo at the offices of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras) in Central Jakarta on Thursday August 23.

Goo explained that Paniai is in the grip of fear following the security sweeps, which have resulted in a series of arrests and the victimisation of ordinary civilians. The security forces should be conducting sweeps in the hills in order to catch the perpetrators of a spate of recent shootings, which according to officials are from the National Liberation Army (TPN), the armed wing of the Free Papua Movement (OPM).

The district police chief and district military commander, he continued, have failed and should be removed because conducting sweeps in city areas has resulted in damage to facilities. Security forces have even conducted sweeps on patients at the Paniai public hospital.

Even worse, explained Goo, they have reason to believe that when questioned by security forces in Paniai, civilians have been assaulted. "Yet the perpetrators are supposedly the TPN, not civilians who are then stigmatised by the security forces as if they are armed. The terrible thing is that security forces stigmatise [all] Papuan people as OPM, this is excessive", he said.

Goo explained that based on the facts on the ground, the justification for the arrest of civilians in Paniai is unclear. Security forces have used armed force to conduct sweeps against and to arrest civilians. This has added to the already muddy situation in Paniai with many ordinary people increasingly afraid to carry out their normal activities.

The security forces, continued Goo, should be maintaining a favourable situation in Paniai and not be conducting security sweeps. Goo appealed to the TNI and police leadership to support peace in Papua by putting an end to the security sweeps within the city and adopting prudent measures to prevent incidents of violence. Ordinary civilians should not be victimised because the security forces are incompetent and unable to catch the perpetrators. [Translated by James Balowski.]

Jumat, 24 Agustus 2012

Aparat TNI/BRIMOB Paksa Pasien Tinggalkan Rumah Sakit Paniai

Ilustrasi Pasien di Paniai (Ist)
JAKARTA -- RSUD Kabupaten Paniai, Propinsi Papua, mencekam, karena didatangi sekelompok oknum Brimob setempat dan TNI. Mereka mencabuti infus pasien dan meminta mereka serta perawat dan dokter di dalamnya meninggalkan RSUD. Seluruh petugas rumah sakit serta pasien yang tengah dirawat meninggalkan rumah sakit sejak Selasa (21/8). Ini akibat intimidasi dari aparat keamanan setelah tertembaknya seorang anggota Brimob.

"Ini membuat masyarakat ketakutan," jelas Koordinator National Papua Solidarity (Napas), Marthen Goo, di Jakarta, Kamis (23/8). Dikatakannya, mereka semua meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki.

Marthen menyatakan yang tragis adalah pasien yang menderita sakit parah. Mereka membutuhkan perawatan intensif. Kondisi ini membuat trauma karena oknum yang berkelompok itu memasuki rumah sakit dengan membawa senjata laras panjang. Pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan medis justru harus pulang karena ulah mereka.

Marthen meminta agar pemerintah tidak tinggal diam. Mereka yang terlibat dalam penciptaan kondisi mencekam itu harus ditindak secara hukum. "TNI dan Polri tidak boleh tinggal diam," imbuhnya.

Dia menduga insiden ini terjadi karena oknum Polri dan TNI tidak terima dengan ditembaknya personel Polri setempat, Brigadir Yohan Kisiwaitoi, hingga tewas di ujung Bandara Enartotali. Timah panas menembus bagian dada sebelah kiri. Penembakan terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Pelaku melarikan diri. Polisi kini tengah memburu pelaku penembakan, dan belum diketahui motif dari penembakan tersebut.

Yohan tengah bersama rekannya, yakni Briptu Gustab Wartanoi, sedang bersama-sama mencuci mobil. Kemudian rekannya pergi untuk membeli makan, sehingga korban Yohan Kisiwatoi sendiri mencuci mobil dan tiba-tiba ditembak oleh orang tak dikenal.

Marthen menduga berdasarkan informasi yang dihimpun, penembaknya adalah oknum Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) di bawah komando John Magai Yogi. Belum diketahui jelas apa motifnya. Namun TPN selalu menyerang aparat Polri maupun TNI karena pihak TPN selalu diserang oleh dua pihak ini. TPN dianggap sebagai pemberontak yang mengancam kemerdekaan Indonesia.

Redaktur: Dewi Mardiani ( http://www.republika.co.id/)
Reporter: Erdy Nasrul

Kamis, 23 Agustus 2012

Tangani Petrus di Paniai Papua, Polisi Jangan Eksesif

Tindakan represif Aparat Polisi Indonesia,  sedang dipraktekkan di Papua
JAKARTA, KOMPAS. com - Polisi diingatkan untuk tidak bertindak eksesif dalam menangani kasus penembakan misterius yang belakangan marak terjadi di Papua. Terakhir, Selasa (21/8/2012), Brigadir Yohan Kisiwaitouw, anggota Brimob Polres Paniai, tewas ditembak orang tak dikenal (OTK) sekitar pukul 10.30 WIT.
"Kita harus ingatkan agar pendekatan yang eksesif itu diubah. Polisi harus mematuhi asas praduga tak bersalah saat mengejar siapa pun yang menjadi terduga (pelaku penembakan aparat maupun warga). Juga agar penduduk sipil biasa atau warga yang suaranya kritis tidak jadi sasaran penangkapan polisi tanpa dasar hukum yang kuat," ujar aktivis hak asasi manusia Usman Hamid saat dihubungi di Jakarta, Rabu (22/8/2012).
Usman yang juga pendiri Institut Kebajikan Publik meminta jajaran Polisi Republik Indonesia (Polri) agar mematuhi kaidah hukum dan hak asasi manusia dalam mengusut pelaku penembakan anggota Polres di Paniai hingga tewas. Sebab, menurutnya, tak jarang polisi justru terkesan bersikap dan bertindak berlebihan terhadap orang Papua seperti menyiksa atau berlaku diskriminatif.
Usman mengungkapkan, menurut laporan yang diterima Institut Kebajikan Publik per 21 Agustus 2012, situasi kota Enarotali, Paniai, mencekam pascadilakukannya operasi pengejaran pelaku penembakan oleh polisi di Paniai. Nyaris tak ada mobil dan kendaraan lainnya yang lalu-lalang. Masyarakat Paniai, tambahnya, pulang pergi dengan jalan kaki. Seluruh kios tutup. Di RSUD Uwibutu beberapa pasien sakit berat maupun sakit ringan dipaksa keluar oleh aparat keamanan.
"Selasa (21/8/2012) malam lalu, keluarga pendeta Yandrik Nawipa dan lima orang warga sipil ditangkap lalu dibawa ke Mapolsek Enarotali, Paniai. Itu bukti Polisi arogan, kebal hukum dan diskriminatif karena main tangkap, tapi tidak didukung bukti yang kuat," tambahnya.
Penangkapan itu adalah buntut dari peristiwa 21 Agustus 2012 pukul 09.30 WIT, ketika Tentara Pembebasan Nasional dan Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Pimpinan Jhon diduga menembak hingga tewas Brigadir Yohan Kisiwaitouw. Polisi menduga ada anggota TPN OPM yang membawa lari senjata sehingga aparat gabungan TNI dan Polri mengejar para pelaku hingga ke arah daerah Kebo, bagian selatan Paniai.
Peristiwa penembakan terhadap Brigadir Yohan Kisiwaitouw merupakan rangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi susul-menyusul belakangan ini di Papua. Pelakunya tidak diketahui. Sebelumnya, Jumat (17/8/2012), penembakan juga terjadi di Distrik Obano, Kabupaten Paniai. Penembakan yang dilakukan orang tak dikenal itu menewaskan Mustafa (22), penjaga kios di pasar Distrik Obano.
Setelah itu, Sabtu (18/8/2012) di Keerom, Papua, Kepala Seksi Kehutanan Kabupaten Sarmi Ayub Notanubun (52) juga tewas ditembak orang tak dikenal. Sehari kemudian, Minggu (19/8/2012), seorang pegawai Kantor Otoritas Bandara Wilayah X Papua, Vian (24), ditembak oleh seorang lelaki yang belum diketahui identitasnya di Jalan Husen Palela, Merauke. Korban mengalami luka tembak di bagian atas telapak kaki kirinya.(Kompas/Aditya Revianur)

Senin, 06 Agustus 2012

Korsel Investasi 150 Juta Dollar di Merauke

MERAUKE, KOMPAS.com- *Perusahaan penanaman modal asing asal Korea Selatan, PT Dongin Prabhawa, menanamkan investasi 150 juta dollar Amerika di Merauke, Provinsi Papua. Perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha Korindo Group itu akan membuka perkebunan kelapa sawit seluas 25.000 hektar, sekaligus membangun pabrik CPO di Merauke.

"Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan nanti sampai 4.000 orang," ungkap Rusdy Salima Mahuze, Kepala Bagian Humas PT Dongin Prabawa di Merauke, Papua, Minggu (15/1/2012).

Rusdy menuturkan, pada tahap pertama PT Dongin Prabhawa telah membuka 5.000 hektar lahan di Distrik Ngguti, dan kini sedang dilanjutkan pembukaan lahan tahap kedua seluas 5.000 hektar. Tidak hanya itu, kini juga telah mulai ditanam bibit sawit di lahan seluas 250 hektar.

Diungkapkan Rusdy, PT Dongin Prabhawa mendapat izin dari Kementerian Kehutanan untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit di lahan seluas 34.058 ha. "Tidak semua ditanami sawit, lahan yang ditanami sawit nanti seluas 25.000 hektar," ujarnya. Pihaknya menargetkan tahun 2015 sudah mulai bisa memanen sawit dan mengolah perdana minyak CPO.

Semen Gresik Ekspansi ke Papua

JAKARTA - Derap laju pembangunan di Papua makin kencang. Selain sektor pertambangan mineral dan migas, sektor pangan pun mulai menggeliat melalui rencana pengembangan food estate. Untuk itu, dibutuhkan pembangunan infrastruktur skala besar.


Menteri BUMN Dahlan Iskan mengakui, selama ini salah satu kendala pembangunan di Papua adalah suplai bahan bangunan, seperti semen. Karena masih mengandalkan suplai dari wilayah lain maka harga semen pun sangat tinggi. "Karena itu, saya minta Semen Gresik melakukan studi untuk membangun pabrik semen di Papua," ujarnya Jumat, (3/8).

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang coba mendorong pembangunan di wilayah paling timur Indonesia tersebut. Upaya itu cukup berhasil. Buktinya, Papua menjadi salah satu favorit penanaman modal investor asing. Misalnya, pada kuartal II 2012 lalu, Papua menduduki peringkat ke-4 daerah tujuan investor asing dengan investasi USD 700 juta.

Namun, kendala geografis membuat pasokan barang ke Papua banyak menggunakan moda transportasi udara sehingga biaya pun membengkak. Sebagai gambaran, harga satu sak semen yang di Jawa sekitar Rp 55 - 60 ribu, di Papua bisa melonjak hingga Rp 1 juta per sak.

Menurut Dahlan, selain karena kebutuhan semen di Papua terus meningkat seiring dengan proyek-proyek pembangunan di sana, ketersediaan bahan baku juga mendukung. "Di Wamena itu terdapat banyak kandungan kapur," katanya.

Dahlan mengakui, dibutuhkan investasi besar untuk membangun pabrik semen di Papua. Selain itu, dari sisi bisnis, lebih menguntungkan untuk membangun pabrik semen di wilayah lain yang konsumsi semennya lebih tinggi. "Karena itu, sebaiknya ada insentif. Waktu Pak Dwi (Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto, Red) datang ke saya, kami bicarakan soal insentif," ucapnya.

Sebelumnya, Dwi Soetjipto mengatakan, tim dari Semen Gresik memang tengah melakukan studi mengenai rencana pembangunan pabrik semen di wilayah Wamena. "Kami sedang menunggu paket insentif apa yang akan diberikan pemerintah," ujarnya."

Selain pabrik semen, BUMN yang akan berganti nama menjadi Semen Indonesia tersebut juga berencana membangun pabrik pengepakan semen untuk mempermudah distribusi di wilayah tersebut. Nilai investasinya diperkirakan sekitar USD 10 juta atau sekitar Rp 90 miliar. (owi/kim)

Indonesia Masih Bangun Opini Buruk Tentang OPM


Johannes  Nugroho Wicaksono
Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah gerakan perjuangan hak azasi rakyat West Papua. Tapi perjuangan tersebut dipojokkan oleh Indonesia melalui berbagai motif dan kedok. Seperti orang tak mampu, ktor, jijik, hingga separatis dan lain sebagainya.
Kali pihak Kepolisian Indonesia (POLRI) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih belum puas menjajah Papua. “Peta politik dan situasi di Papua selama ini dibangun oleh TNI/POLRI,” ungkap Semmuel warga Papua di Jayapura kepada Papua Reality, Selasa (7/8) siang. Menurutnya, kekerasan bersenjata di Papua, sebenarnya dikebiri oleh militer Indonesia. “Termasuk isu pelaku penembakan di Mulia (Kabupaten Puncak Jaya-red) dilakukan oleh orang Indonesia,” ungkap aktivis itu.
Pelaku kekerasan di Mulia, seperti yang dibahas dalam salah satu milis Papua, menyatakan  bahwa, tuduhan tersebut tanpa bukti. “Pelaku sandera dan penggeroyok siapa? Mana buktinya? Tidak ada bukti. Kalau bendera, pisau anak panah, itu bias dipalsukan,” terangnya.
Terkait dengan protes Semmuel tersebut, rekan aktivitis lainnya juga menilai Kabid Humas Polda Papua,  Kombes Pol Drs Johannes  Nugroho Wicaksono membangiun opini baru tentang kelompok OPM faksi Yambi di  Puncak Jaya. “Humas Polda itu orang apa, tidak tahu apa-apa di lapangan, p[aling kesimpulan pernyataannya,  pelaku lari ke hutan, pelaku lari ke hutan. Paling teriak begitu saja, kayak anak kecil mintah tolong,” tepisnya. Situasi demikian, sebenarnya Papua menanti tim Independen. “Mari kirim Tentara atau pasukan Internasional yang independen dan damai di tanah Papua. Bukan Militer Indonesia yang pojokkan aspirasi dan rakyat Papua,” tandasnya. (demmy)